Pernikahan: Cinta Atau Agama? February 15, 2011
Oleh: Fransisca Claire
Saya pernah mendengar bahwa UU Perkawinan di negara kita mengharuskan agar kita menikah dengan pasangan yang memiliki agama yang sama. Saya tidak tahu apakah yang saya dengar ini benar atau tidak, apakah UU tersebut benar-benar ada dan masih berlaku atau tidak. Yang saya tahu, pernikahan beda agama biasanya ditentang oleh berbagai pihak, terutama oleh pihak-pihak yang merasa dirinya ‘religius’.
Izinkan saya mendongeng… Ada seorang teman yang menyukai band-band Jepang sama seperti saya. Karena terlalu terobsesi, dia bahkan berniat menikah dengan vokalis dari salah satu band. Sejauh yang saya tahu, agama anggota band di Jepang tidak pernah dipublikasikan. Lagipula untuk apa? Berhubung teman saya ini adalah seorang yang ‘taat beragama’, iseng-iseng saya bertanya, “Bagaimana kalau ternyata sang vokalis tidak seagama denganmu?” “Saya akan mengajaknya untuk masuk ke agama saya,” jawabnya. Seketika itu dalam benak saya muncul lagi pertanyaan lain, “Bagaimana kalau sang vokalis tidak mau pindah agama? Apakah kamu akan memaksanya? Bagaimana kalau dia tidak mau pindah walaupun sudah dipaksa?”, tetapi tidak saya tanyakan. Ingin tertawa rasanya saat saya mendengar jawabannya. Lucu, sekaligus menyedihkan. Teman saya adalah anak yang pandai, jauh lebih pandai daripada saya. Saya heran, bagaimana mungkin anak sepandai dia bisa berpikiran sepicik itu? Siapa yang menanamkan paham seperti itu di kepalanya?
Kita belum mencintai seseorang jika kita tidak mampu menerima orang itu apa adanya. Sebaiknya jangan menyatakan cinta jika Anda masih ingin memaksa orang yang Anda ‘cintai’ untuk berubah. ‘Cinta’ Anda belum layak disebut cinta. Anda masih memilih-milih. Anda menyukai hal tertentu dari dirinya dan ingin mengubah hal lain darinya yang tidak Anda sukai. Jika hal yang tampak di mata Anda saja masih belum bisa Anda terima, bagaimana mungkin Anda dapat menerima sisi-sisi lain dari pasangan Anda yang belum Anda ketahui (dan mungkin tidak akan Anda ketahui)? Bagaimana mungkin dengan PD-nya Anda menyatakan bahwa Anda mencintainya? Well, ini cuma pendapat saya, terserah apakah Anda mau setuju atau tidak.
Berhubung teman saya masih anak-anak, saya memakluminya. Saya justru menyalahkan orang-orang di sekitarnya yang membuat dia berpikir seperti itu; orang tuanya, gurunya, teman-temannya, terlebih lagi orang yang mengajarkan agama kepadanya. Maafkan saya yang hanya bisa asal menebak dan bicara sembarangan, tetapi menurut saya agama zaman sekarang lebih mirip partai politik yang berebut suara rakyat untuk memperoleh kursi di Senayan. Para pemuka agama sibuk tarik menarik umat, entah untuk apa. Umat agama lain diajak berpindah ke agamanya, dan umatnya sendiri dilarang pindah ke agama lain. Agama sendiri dianggap paling benar, agama lain diberi label ’sesat’. Yang lebih hebat lagi, kadang-kadang para pemuka malah mengerahkan umatnya untuk memperoleh lebih banyak lagi umat, seperti simpatisan partai politik saja. Bukannya mempersatukan bangsa, agama malah memecah belah dan mempersempit pandangan kita. Coba lihat, begitu banyak kerusuhan dan perkelahian yang terjadi atas nama agama. Lihatlah, wahai para pemuka agama yang merasa terkemuka, kalian telah membuat bangsa ini terkotak-kotak dalam sekat-sekat buatan kalian! What have you done? Tidak dapat kesempatan berpolitik di pemerintahan, lalu menjadikan agama sebagai kedok untuk berpolitik?
Pernahkah Anda jatuh cinta pada seseorang yang berbeda agama dengan Anda? Atau pernahkah Anda jatuh cinta pada seseorang yang disebut atheist atau agnostic? Akan jatuh ke mana pilihan Anda, cinta atau agama? Apa yang lebih penting bagi Anda, orang yang Anda cintai atau agamanya? Lihatlah, bukankah karena peraturan untuk menikah dengan orang yang seagama, banyak rakyat kita yang memutuskan untuk menikah di luar negeri? Hal itu bisa dilakukan kalau memiliki uang, tetapi bagaimana kalau tidak? Mengapa kita malah menghalangi dan menyusahkan hubungan cinta sepasang anak manusia dengan peraturan yang menurut saya ‘aneh bin ajaib’? Adakah Anda bertanya terlebih dahulu sebelum mencintai seseorang, “Agamamu apa?”
Sudah cukup perpecahan yang kita timbulkan. Saya tidak setuju dengan anggapan pernikahan beda agama cenderung menimbulkan masalah. Tentu saja akan timbul masalah, karena kita menganggap agama kita yang paling benar. Tentu saja akan timbul masalah, karena tindakan Anda berdasarkan atas pemahaman Anda yang salah dan sudah tertanam di dalam benak sejak dahulu kala. Kalau kita mau membuka mata, sesungguhnya pernikahan beda agama pun ada yang bisa berjalan dengan baik. Sebaliknya, tidak jarang sepasang suami istri dengan agama yang sama malah dengan mudahnya memutuskan untuk bercerai.
Izinkan saya menutup celotehan saya ini dengan sebuah cerita. Saya mendengarnya dari seorang teman:
A: “Apa kriteria utama agar seseorang bisa menjadi istrimu?”
B: “Dia harus seiman dengan saya. Bagaimana denganmu?”
A: “Kalau saya sih simple saja. Dia haruslah seorang perempuan.”
Sumber dari sini.
By IRIndonesia.wordpress.com






0 komentar:
Posting Komentar